Selalu. Pada akhirnya kita akan
pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih
rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol
kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para
ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak
terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu
akan terus berjalan.
Sebuah jam lama di tonggak rumah
gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa
setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang
tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak
tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang
lumayan besar di sisi dinding yang lain.


